Rabu, 17 Agustus 2016

Ujian Tuhan dan Azab dunia

Ujian Tuhan dan Azab dunia, memang telah jelas bahwa keduanya berbeda. Namun, tak banyak manusia yang dapat membedakannya. Jika hal itu terjadi, sungguh akan merugikan diri kita sendiri.

Ujian Tuhan dan Azab dunia, memang berbeda. Namun, bukan berarti tak ada persamaannya. Nah, persamaannya inilah yang membuat banyak manusia tak dapat membedakannya.

Ujian Tuhan, biasanya berbentuk, "Penderitaan", dan begitu pula bentuk dari pada Azab. Sama-sama bermakna suatu "penderitaan."

Ujian Tuhan, biasanya betujuan untuk menguji keimanan suatu kaum. Ujian itu banyak yang mengarah kepada "Kepedihan hidup" atau malah sebaliknya yaitu, "Kekayaan harta."

Itulah yang membuat tak banyak manusia dapat membedakannya. Coba saja bayangkan, siapa yang akan menyangka, bahwa kekayan yang dimiliki seseorang merupakan ujian Tuhan? Malah sebaliknya, ia akan merasa bahwa itu adalah Rezeki dari Tuhan. Jika itu terjadi, sungguh sangat disayangkan.

Azab dunia, Biasanya akan menimpa seseorang bukan karna Tuhan "Benci padanya." Tapi Karna perbuatan dosanya sendiri. Nah, azab dunia yang menimpa seseorang itu "Seharusnya" bertujuan agar ia sadar akan perbuatan dosanya. Bukan malah makin jadi(Semakin menderita, semakin berbuat dosa)

"Semakin kita berbuat baik terhadap sesama, maka akan semakin jauh pula Azab dunia. Namun, ketika Semakin kita ingin mencelakakan sesama, maka akan semakin dekat Azab dunia.

Makhluk Abstrak

Rabu, 20 Juli 2016

Serial HIDUP & MATI (30)

SERIAL

HIDUP & MATI

Chapter 30

Sidra , Anto da om Beta masih duduk berhadapan dengan dibatasi oleh jeruji besi. Sidra dan Anto berada di dalam dengan duduk bersila menghadap keluar, begitupun sebaliknya dengan om beta.

“kemudian, apa rencana kita?” Tanpa perlu basa-basi lagi, Anto langsung mencoba untuk bergerak secepatnya. Seperti biasa ia sangat agresif.

“Pertama-tama, kita harus mencari kinan.” Kini giliran sidra.

“Baiklah, kita susun rencana untuk mencari teman kalian yang bernama kinan itu. Aku jadi sedikit penasaran dengannya” om beta setuju dengan usulan sidra, dan juga terlihat ingin secepatnya untuk bergerak.

‘Begini, kemungkinan besar teman kalian si kinan itu berada di ruangan
“godfather”(*), dan itu berada di lantai 30 gedung ini. Itu adalah puncaknya. Untuk masuk ke ruangan itu, kita harus memiliki keperluan penting. Jadi, kita tak perlu ke puncak. Kita hanya perlu mempercepat durasi pembicaraan mereka. Karena ketika mereka telah selesai, aku yakin anak itu akan di giring ke tempat ini juga untuk sementara. Jadi sederhananya, untuk sementara kita harus menunggu, dan mencoba mengubungi ruangan godfather untuk mempercepat. Hanya saja yang menjadi Kendalanya, ketika kita menghubungi ruangan itu, kira-kira hal apa yang membuat godfather tertarik dan menyelesaikan obrolannya seketika?” om beta yang telah hafal dengan setiap situasi dan kondisi gedung itu, menyusun rencananya dengan begitu hati-hati dan tidak gegabah.

(*Godfather adalah pimpinan utama organisasi rahasia itu)

@Dalam ruangan Godfather, di mana kinan berada.

Seteleh kinan memotong pembicaraan pamannya, hingga saat ini ia masih menunggu. Duduk memandangi gelas yang berisi teh di hadapannya.

Paman kinan pun terlihat masih enggan untuk melanjutkan ceritanya. Meskipun ia tahu betul apa yang harus ia ceritakan, dan juga ia tahu betul jawaban dari pertanyaan besar dalam hidup kinan.

“Hei, mengapa ka diam saja? Sampai kapan aku menunggu?” Kinan yang mulai gelisah mencoba mendesak pamannya yang kini sedang duduk di kursi godfather.

Paman kinan hanya menyeringai.

“Nak, kinan. Pertanyaan besar dalam hidupmu saat ini, aku bisa bisa saja menjawabnya sekarang jika aku mau. Tapi sayangnya aku tidak ingin menjawabnya sekarang, karena aku tahu, ini bukanlah saat yang tepat. Aku ingin kau tetap berada di sini hingga saat itu tiba. Kau akan aku didik, menjadi apa yang kau inginkan. Mengembangkan bakatmu, dan akan aku jamin masa depan yang cerah bagimu, nak. Jadi, menetaplah bersema pamanmu ini. Apapun yan kau inginkan akan kau dapatkan, ketika kau bersamaku, nak. Apa yang kau inginkan? Harta? Tahta? Wanita? Akan aku berikan.”

Kinan sangat terkejut mendengar pengakuan pamannya, bahwa ia tahu

“apa yang terjadi pada saat itu” saat sebelum ia dilahirkan, dan permasalahan apa yang terjadi sehingga ia diasuh oleh orang tua angkatnya.

“Aku bahkan tahu siapa yang sedang kau cari dalam hidupmu.”
Kinan kembali terkejut, dan terpaku. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Pamannya telah berhasil membuat kinan berada dalam keadaaan dilema antara 2 pilihan besar. Kinan telah terjun kedalam lubang dilema yang tak berujung. Ia harus memilih. Tetap tinggal demi pertanyaan besar dalam hidupnya, atau kembali bersama sidra, anto, dan mawar untuk menggapai jawaban itu bersama-sama. Sungguh pilihan yang sangat sulit bagi kinan. Ia tak boleh gegabah. Ia harus berpikir matang-matang.

“Baiklah, aku yakin kau pasti sulit untuk memilih. Jadi silahkan kau berpikir beberapa saat.”

“tok tok tok” suara pintu diketuk dari luar.

“masuk” paman kinan memerintah
Kemudian muncullah sesosok pria besar tinggi dengan pakaian militer, dan menenteng senjata Ak-47.

“Bawa dia.” Paman kinan kembali memerintah.
Tanpa menjawab, pria besar itu langsung menggenggam lengan kinan dengan kasar, lalu menariknya dengan paksa. Kinan paham dengan situasinya. Ia hanya sedikit memberikan perlawanan, karna ia tahu akhirnya.
Sebelum kinan benar-benar keluar dari ruangan itu, ia sempat mentap tajam pamannya yang menyeringai.

Kinan di giring melalu lorong gedung. Dinding-dindingnya di hiasi lukisan-lukisan mahal. Karpet yang sangat empuk. Udara yang sejuk. Sungguh gedung mewah.

--

Kinan dan pria besar yang membawannya tadi, telah sampai di ruang tahanan. Di sana masih terlihat om beta yang duduk bersila mengahadap ke dalam sel.

“Lapor, pak. Saya serahkan tahanan ini” pria besar tadi, tanpa basi-basi langsung mempercayakan kinan kepada atasannya.

Om beta yang sedang serius menyusun rencana untuk menhadirkan kinan secepat mungkin, dikagetkan dengan suara lantang bawahannya yang menggema di langit-langit ruangan itu.

“i-ia. Silahkan keluar.”

“baik, pak” tanpa banyak tanya lagi, si pria besar anggota pasukan elite itu pun langsung pergi dan meninggalkan kinan.
Kemudian om beta menghampiri kinan. Sedangkan Sidra dan Anto yang sangat penasaran mencoba mengintip melalui sela-sela jeruji besi. Namun itu sia-sia saja.

“siapa nama mu, nak?” om beta langsung menanyakan nama
Kinan tak langsung menjawab. Ia mencoba menatap mata om beta, seakan sedang mencari sesuatu.

“Kinan.” Kinan yang telah paham dengan situasi, menjawab singkat.
Sedangkan om beta, terkejut saat mengetahui bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya itu adalah kinan.
Tentu saja om beta terkejut. Ia sedang menyusun rencana untuk menghadirkannya secepat mungkin, dan kini ia ada di hadapannya.
“ternyata ini, orangnya.” Om beta bergumam dalam hati.

Cerita kinan masih akan berlanjut. Nantikan lanjutannya :)

Oleh:Makhluk Abstrak




Senin, 18 Juli 2016

Serial HIDUP & MATI (29)

Serial
HIDUP & MATI
Chapter 29

Setelah di pukuli habis-habisan di ruang interogasi, Sidra dan Anto kini digiring dengan kedua tangan mereka yang terborgol menuju ruang tahanan.

“Untuk beberapa waktu, di sini tempat kalian” Si bos yang memukuli Anto tadi, mencoba berkata ramah.
Setelah Sidra dan Anto berada di dalam penjara. Si bos pasukan elite itu bukannya langsung beranjak pergi, ia mengambil posisi duduk bersila menghadap ke dalam penjara, dan berhadapan dengan Sidra maupun Anto yang di batasi oleh jeruji besi.
Si bos itu membuka percakapan. “ Hei, siapa nama kalian?” dengan suara yang datar, seperti biasanya
Sidra dan anto saling tatap. Sedikit bingung dengan situasi.

“Aku Anto, dan dia Sidra sahabatku” Anto yang mulai paham dengan situasi, menjawab dengan tenang. Meskipun ia babak belur setelah dipukuli.

“Panggil saja aku, Om beta”
Sidra dan Anto kembali saling melirik satu sama lain.

“Aku di sini sudah cukup lama, sekitar 10 tahun-nan. Memimpin pasukan elit yang menjaga tempat ini. Sejak kami ditugaskan di tempat rahasia ini, hanya beberapa kali saja kami diberi kesempatan berjumpa dengan anak dan istri di rumah. Keluarga kami diancam akan dibunuh ketika kami melanggar peraturan. Jadi, dengan kata lain, keselamatan keluarga kami berada pada ketaatan kami terhadap aturan. Sekali saja kami melanggar. Maka habislah sudah. Hingga saat ini, tak ada cara bagi kami untuk memberontak, kami memilih untuk patuh. Karena keluarga adalah hal yang lebih berharga dari pada nyawak kami sendiri” Si bos yang ingin di panggil dengan nama om beta itu menjeda ceritanya, dengan menghela nafas dalam-dalam. Seakan membuang beban berat.

“Aku merasa, setiap latihan keras yang kami lewati hingga menjadi seperti ini, benar-benar telah disalah fungsikan. Latihan kami sebenarnya untuk mengamankan dan mengabdi kepada negara, Bukannya mafia.” Om beta kembali menghela nafas

“Mungkin ini akan terdengar seperti lelucon. Tapi, aku harus mengatakan bahwa untuk beberapa Alasan dan situasi, Aku sebagai kepala pasukan membutuhkan bantuan kalian. Yah... Kami membutuhkan bantuan kalian untuk memberontak, tanpa ada keluarga kami yang akan menjadi korban. Aku yakin kalian pasti bisa. Karena kalian tak terikat, dan itu kesempatan emas”
Sidra dan Anto kembali baku tatap untuk yang ketiga kalinya. Namun kali ini mata mereka membelalak dan alis yang naik membuat dahi mereka mengkerut, ditambah lagi mulut mereka sedikit menganga karena begitu terkejut mendengar perkataan om beta yang meminta bantuan pada mereka. 2 pemuda yang aktifitasnya hanya sebagai mahasiswa.

“Tentunya akupun akan membantu kalian untuk menyelamatkan teman kalian. Dari awal aku sudah curiga. Kalian ke sini bukanlah untuk mencoba mencuri.”

“Dari mana kau tahu?” Anto yang begitu penasaran langsung memotong.

“Aku tahu benar, kebenaran atas apa yang dikatakan orang lain kepadaku. Saat si tong(paman cs) mengatakan bahwa kalian mencoba untuk menyusup ke tempat ini, aku merasa ada yang ganjil. Kemudian dengan cepat dan sangat teliti, aku mendapatkan “sesuatu” di mata si tong. Dari situlah aku mulai yakin bahwa kalian ini bersekutu dengannya. Aku sudah kenal baik dengan si tong. Meskipun baru 3 bulan.”  Om beta mulai terbuka kepada Sidra dan Anto.

“Tapi om, kami takkan melakukan apa-apa untuk om, kecuali kami bertiga dengan teman kami yang bernama kinan. Ia berada di salah satu ruangan di gedung ini.” Kini Sidra yang mengambil kesempatan untuk menekan om beta agar segera mencari kinan.

Akhirnya mereka pun sepakat bekerjasama untuk memberontak dan menghancurkan mafia raksasa itu, dan dari sinilah dimulai pertempuran antara segerombol “semut merah” dengan kawanan “gorila”.

Nantikan lanjutannya.

Penulis: Makhluk Abstrak






Rabu, 13 Juli 2016

Sisi Buruk dan baik

  Setiap manusia pasti memiliki dua sisi yang berbeda dalam dirinya, yaitu terang dan gelap. Sebenarnya bukan hanya manusia, hewan, tanaman, dan bahkan planet bumi kita pun memiliki sisi gelap dan terang.

Nah, jika kedua sisi ini dikaitan dengan tingkah laku manusia, maka akan terlintas di benak kita soal perilaku baik dan buruk.

Setiap manusia pastinya memiliki pendapat atau pemikiran yang berbeda terkait permasalahan apapun. Begitupun tentang perilaku buruk dan baik.

beberapa manusia mungkin berpikir bahwa, perilaku buruk yang ia miliki adalah suatu hal yang sangat tak pantas untuk diumbar, di depan umum, maupun di depan seseorang tertentu yang dapat membuat citra manusia itu rusak. Nah, manusia yang berpikiran seperti ini biasanya rentan sekali di cap sebagai manusia yang munafik.

Beberapa manusia lain berpendapat bahwa, settiap perilaku baik dan buruk mereka, memiliki tempatnya masing-masing. Misalnya, ketika mereka berada di suatu tempat yang berwarna putih, maka mereka berpikir untuk menjaga sikap dan “menyembunyikan” perilaku buruk mereka, atau citra mereka  akan rusak. Begitupun sebaliknya, ketika mereka sedang berada di tempat yang berwarna hitam, mereka tak berpikir untuk menjaga sikap. Hanya saja, disaat mereka berada di tempat yang berwarna hitam, bukan berarti mereka juga mencoba untuk “menyembunyikan” perilaku baik mereka.

Nah, sisa manusia lainnya, sangat berbeda. Mereka tak peduli di mana pun mereka berada, entah di tempat berwarna putih atau pun hitam, mereka hanya bertingkah semaunya, seenaknya dan sejadinya. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri. Inilah manusia yang biasa disebut manusia KURANG AJAR

Senin, 11 Juli 2016

Serial HIDUP & MATI 27-28

SERIAL
HIDUP & MATI
Chapter 27

“Di mana keberadaan anak itu, belakangan ini aku tak pernah melihatnya.”

“Aku juga tak tahu ayah, padahal aku ini teman baiknya. Tapi di manapun ia berada, kuharap ia baik-baik saja.”

“Hmm… semoga saja. kurasa aku mulai khawatir. Tidak-tidak, Bukan mulai khawatir, Lebih tepatnya aku harus segera mengkhawatirkannya.”

“jangan-jangan, ia bertemu dengan…”

“Siapa ayah? Jangan-jangan ia bertemu dengan siapa??”

******************************
Anto, sidra dan si paman cs telah tiba di parkiran gedung yang katanya gedung paling aman di kota ini. Bagian depan gedung, terlihat dipenuhi dan dijaga ketat oleh pasukan bersenjata. pasukan yang berjaga di depan gedung itu, benar-benar telah siap tempur. Dengan menenteng senjata seperti SMG, AK-47, dan bahkan senapan mesin kelas berat. Seakan-akan tempat itu menjadi sasaran utama dalam peperangan. Wajar saja, tempat itu adalah markas besar mafia kelas kakap yang cakupannya telah mencapai 80% wilayah planet bumi ini. Hampir di setiap Negara, paling tidak, ada 5-12-an cabang yang tersembunyi. bahkan melebih dari pada kedubes milik Negara-negara maju. Kelompok mafia itu, bergerak di berbagai aspek, mulai dari perpolitikan, perdagangan(senjata dan manusia), Narkoba, kemaritiman, dan bahkan kelompok ini juga menguasai angkatan militer di beberapa Negara. Mereka bermain dalam gelap. Meraka betah dalam gelap tak terlihat. Lincah, gesit, agresif, dan begitu jenius dalam melakukan kerjanya. Karena itulah kelompok ini benar-benar tak terdeteksi sama sekali. Bahkan, meraka tak pernah satu kali pun berurusan dengan pihak kepolisian, apa lagi dengan pasukan-pasukan elit antiteror. Sungguh orgnanisasi besar yang sangat mengerikan.

Saudara kembar ayah kandung kinan, adalah salah satu pimpinan tinggi dari lima pimpinan yang terbagi atas 5 wilayah, yaitu Eropa, Asia, Amerika(Utara dan Selatan), Australia, dan Afrika. paman kinan mempimpin wilayah Asia, yang menjadi daratan terbesar dan terluas di bumi.

Sebelum organisasi itu berkembang dan menguasai 5 benua, organisasi itu hanyalah perkumpulan para pengusaha sukses dan para milarder yang berjiwa nasionalis peduli Negara dan peduli masyarakat kecil.

Orientasi atau arah gerak organisasi ini pun tidak mengarah kepada kepentingan pribadi maupun mencari keuntungan. Organisasi ini benar-benar bekerja dan membantu dengan ikhlas.

Organisasi ini terus berkembang dan tak pernah sama sekali keluar dari jalur tujuan. Namun, itu semua hanya terjadi pada masa kepimimpinan ayah angkat kinan.

Waktu berlalu begitu cepat, hingga tiba saat ajal menjemput ayah angkat kinan, yang meninggalkan begitu banyak pelajaran hidup bagi para anggota lain.

Setelah kepergiannya, saudara kembar ayah kandung kinan yang menggantikannya dan mengarahkan organisasi itu. Namun, pada awal masa kepemimpinan paman kinan, organisasi ini mengalami pergejolakan. Para anggota beradu paham. Tak ada yang dapat melerai. Membuat suatu kondisi yang begitu menegangkan, atau dengan kata lain, organisasi ini benar-benar telah di ambang kehancuran. Namun, siapa sangka, kehancuran yang sudah di depan mata, berbalik arah dan perlahan-lahan meninggalkan tepi kehancuran untuk menuju puncak kebesaran.

Ketika kekacauan telah mereda, banyak anggota yang memilih untuk mengundurkan diri, karena kalah dalam “perang” ideologi. tapi itu bukan masalah besar. Paman kinan yang kini menjadi pimpinan tertinggi wilayah Asia, dan sekaligus ketua umum organisasi itu, kembali merekrut para pengusaha yang memiliki jaringan yang sangat luas, sebagai anggota. Hanya saja, para pengusaha itu bukanlah pengusaha-pengusaha berjiwa nasionalis, peduli Negara, terlebih lagi untuk peduli masyarakat kecil. Tidak sama sekali. Mereka adalah orang-orang serakah. Meraka pengusaha kaya yang tak akan pernah puas dengan apa yang meraka miliki saat ini. Mereka hanya terus mencari, mencari dan mencari penghasilan lebih demi kesenangan dunia semata, tanpa peduli jalan manapun yang akan mereka tempuh.

Organisasi rahasia yang menguasai 5 benua itu hingga saat ini, memiliki lebih dari 500.000 anggota secara keseluruhan, dan semua terkendali dengan baik.

“Hei, paman. Apa kau yakin, dengan kita masuk begitu saja secara transparan seperti ini akan berhasil?”. Anto yang tak cukup yakin dengan rencana si paman cs, untuk masuk secara transparan, mencoba bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Tenanglah, untuk hal ini serahkan saja padaku. Kalian hanya tinggal berjalan di belakangku saja. cobalah untuk bersikap biasa, dan jangan terlihat tegang, santai saja” si paman cs yang telah cukup lama bekerja sebagai supir di markas besar itu, sudah terbiasa dengan suasana di sana. Wajahnya telah menjadi pemandangan yang sangat membosankan bagi penjaga-penjaga itu.

Mereka mulai masuk melalui pintu utama, dan melewati setiap penjaga seperti berjalan di tengah-tengah kebun, mengabaikan pepohonan yang berbaris rapi.

“hei, paman.”

“sst… diam. Ikuti saja kataku.” Dengan berbisik, si paman cs kembali mengingatkan Anto.

----

Salah seorang pria kekar menghampiri si paman cs. Hanya saja, pria kekar ini tak mengenakan perlekapan bersenjata. Ia hanya memakai pakaian biasa, dengan bawahan celana jeans biru, dan atasan kaos putih berkerah. Ditambah kacamatanya yang tergantung di kerah bajunya.

“eh, bos.” Si paman cs menyapanya.

“hmm… apa kabar kau, tong?”

(Si paman cs, biasa di sapa “tong”, oleh teman-teman dekatnya di markas besar)



Chapter 28

“ehehe… baik bos” si paman cs atau yang sering di sapa “tong” oleh rekannya di markas besar itu, tersenyum lebar sambil tangan kanannya mencoba menggaruk kepala  bagian belakangnya yang hampir sama sekali tak gatal.

Dengan muka yang sama sekali tak bereskpresi, si pria yang di sapa “bos” oleh si paman cs bertanya, pun dengan suara yang begitu datar, “ada perlu apa kau kemari? Tak biasanya…”

“ee… ini bos, saya bawa dua orang pemuda yang tertangkap basah oleh saya mencoba menyusup ketempat ini. Entah apa yang mereka cari. Mereka mengendap-endap” suara paman cs yang tadi amat ceria, kini berubah menjadi serius.

Hening. Susana seketika hening. Sidra dan anto saling tatap tak menyangka apa yang telah dikatakan oleh si paman cs barusan.

Si bos yang sedang berdiri berhadapan dengan si paman cs, mulai berekspresi, ia mengkerutkan dahi, pun tak menyangka dengan apa yang telah ia dengar.

Tentu saja, bagaimana mungkin. Pertama, tempat itu adalah tempat yang kerasahasiaannya benar-benar terjaga, ketika ada seseorang yang tak berkepentingan mengetahui tempat itu, maka paling tidak, nyawalah yang akan menjadi bayarannya. Kedua, tempat itu adalah tempat yang paling kondusif di kota itu.

Si bos tadi, benar-benar tak habis pikir. bisa-bisanya ada dua orang pemuda yang berani mengantarkan nyawanya ketempat ini? Apa yang mereka cari??

Sesuatu apa yang lebih berharga dari pada nyawa mereka sendiri? Akan menjadi sebuah lelucon, ketika kedua pemuda itu datang hanya untuk mencuri.

Si bos tadi, masih terdiam dengan dahinya yang masih mengkerut, dan dengan kedua tangannya yang terlipat di atas dadanya. Masih  mencoba untuk memahami situasi. Hal ini benar-benar suatu yang tak masuk akal baginya.

Kini, si bos mulai menatap tajam mata si paman cs. Tatapan tajamnya, seakan mencari sesuatu. Sesuatu yang tak tampak. Sesuatu yang tersembunyi di mata si paman cs. Namun, tetap saja, ia tak menemukan apa-apa.

Akhirnya si bos para penjaga ini, mengambil keputusan, setelah beberapa menit mencoba mencari sesuatu yang tak ia pahami dari kedua pemuda itu, dan perkataan si paman cs.

“baiklah, untuk sementara Bawa mereka ke ruang interogasi”

####

Kini, sidra dan anto berada dalam ruangan sebesar 6 x 6 meter persegi. Putih. Tak ada warna lain. Hanya ada dua
kursi.

Anto, duduk di sebelah kiri. Sedangkan sidra di kanan. Mereka duduk menghadap dinding kaca(cermin).

“Hei, nak.” Terdengar suara khas orang tua, memecah hening dalam ruangan interogasi.

Sidra dan anto, tahu betul dengan suara yang mereka dengar. Hanya saja, mereka tak dapat memastikan hanya dengan mendengar saja.

“Aku sungguh tak menyangka, bahwa kalian…”

“Tidak! Seharusnya kami yang tak menyangka. Apa yang kau lakukan di sini pak tua!?” Anto yang memang sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, sama sekali tak gentar, dan dengan lancang memotong perkataan dari suara orang tua yang amat mereka kenali.

Sedangkan di balik dinding kaca, terlihat jelas ketiga wajah yang menyeringai setelah anto dengan lancang memotong.

“Apa yang kalian lakukan di tempat “sederhana” ini, nak?” Suara serak khas orang tua tadi kembali bertanya.

“bukan urusanmu!” sidra yang sedari tadi hanya diam, menjawab dengan tenang dan sedikit membentak.

“Baiklah, kalau itu yang kalian inginkan”

Pria kekar yang di sapa “bos” oleh si paman cs tadi, masuk kedalam ruangan interogasi. Dengan santai berjalan menuju ke arah anto, dan tanpa basa-basi menghantam pipi kanan anto dengan kepalan tangannya yang terlihat keras seperti batu.

Anto terpental bersama dengan kursi yang ia duduki, Darah menetes di sela bibirnya. Si bos, kembali menghampiri anto yang terkapar, dan kembali menghantamnya.

Sidra mencoba menahan amukan si bos tadi. Namun, sia-sia saja. Si bos, terus memukuli Anto, tanpa ampun.
Mungkin fisik yang sidra miliki tak mampu menahan amukan si bos itu. Namun, nalurinya terus memberontak. Tak ingin berhenti, terus melakukan perlawanan terhadap si bos yang sedang sibuk memukuli anto.

Anto yang menyadari bahwa pukulan si bos, bukanlah pukulan serius, membiarkan dirinya di hujani pukulan. Meskipun wajahnya memar-memar.
Anto yakin, pria kekar yang sedang memukulinya sedang menyembunyikan sesuatu, dan anto mulai yakin bahwa pria kekar yang sedang memukulinya, berada di pihaknya.

Sidra yang belum menyadarinya, masih terus memberontak mencoba menghentikan si bos.

“Cukup!” suara orang tua tadi memerintahkan si bos untuk berhenti.

“Maaf, nak.” Si bos berbisik di telinga kanan anto yang sedang terkapar,  sebelum keluar dari ruangan.

To be continue...

Nantikan lanjutannya. :)

Sabtu, 04 Juni 2016

HIDUP & MATI (26)


SERIAL

HIDUP & MATI

Chapter 26

Kini Kinan hanya terfokus pada laki-laki berusia sekitar 40-an yang sedang bercerita tentang masa lalu keluarganya, yang tentunya sangat berkaitan dengan masa lalu orang tua kandung maupun angkat Kinan.

Beberapa tahun lalu, setelah kejadian tragis itu, Kinan mulai menyimpan pertanyaan besar dalam kepalanya, dan itu cukup mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai pelajar. Di tambah lagi dengan keraguan yang menyelimuti pertanyaannya, Kinan benar-benar hampir frustasi. Ia terlalu “Takut” untuk bertanya kepada kedua orang tua angkatnya tentang hal ini. Sebelumnya Kinan memang sangat yakin bahwa pertanyaannya akan terjawab jika ia memiliki setetes saja keberanian dalam hatinya. Namun di sisilain, ia pun meyakini bahwa, jika ia memiliki setetes saja keberanian dalam hatinya, maka akan ada hati lain yang tersakiti oleh pertanyaan itu. Kinan akan merasa menjadi manusia paling egois ketika hal itu terjadi. Tentu saja itu akan terlihat seperti ia terlalu mengedepankan egonya hanya demi suatu hal yang mengganggu, lalu merelakan hati orang tua angkatnya yang membesarkannya ia sakiti.

“Apa yang terjadi pada saat itu?” yah… mungkin itu terlihat terlalu sederhana untuk sebuah pertanyaan yang mengganggu dan bahkan dapat menyakiti seseorang ketika itu di lontarkan. Maka dari itulah Kinan masih menyimpan pertanyaan besarnya hingga kedua orang tua(angkat)nya meninggal, dan bahkan hingga saat ini. Tentu saja ia tak menyesali keputusannya. Ia tahu bahwa masih ada seseorang yang dapat menjawab pertanyaannya. Hanya saja yang menjadi masalah, ia bahkan tak mengetahui bahwa orang itu masih menapakkan kaki di muka bumi ini ataukah telah berada di surga. Di tambah lagi, ia tak sedikit pun dapat membayangkan bentuk rupa orang itu.

Setelah itu waktu terus melaju tak pandang bulu dan menyisakan masa-masa pahit dalam hidup Kinan, yang sama sekali tak bisa dilupakan. banyak hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Namun, ia selalu saja mengabaikannya. Hingga tiba pada satu malam yang sangat menegangkan dan begitu mencekam di tengah kota.

¬¬¬---------------------------

“Nak, Kinan. Tentunya kau telah paham, bahwa manusia adalah wujud dari pada makhluk  sempurna dialam semesta ini. Namun kesempurnaan itu hanya berlaku pada bentuknya saja, tidak untuk tingkah laku. Maka dari itu, sudah menjadi hal wajar ketika manusia melakukan kesalahan. Baik di sengaja maupun tidak disengaja. Namun, 5 dari 10 manusia terkadang tak menyadari dirinya bahwa ia telah melakukan hal yang menyimpang. Entah itu dalam kehidupan sosial maupun kehidupan beragama. Nah, karena hal itulah aku merasa bahwa dirimu termasuk dalam 5 dari 10 manusia yang terkadang tak menyadari kesalahannya. Nak, Kinan. Bukan maksud ku untuk mencampuri urusanmu. Hanya saja, apapun yang akan terjadi, urusanmu dan urusanku telah menjadi satu kesatuan. Dengan kata lain, urusanmu adalah urusanku. Aku sebagai pamanmu, tak begitu mengerti jalan pikiranmu. Tapi, aku harus mengatakan kepadamu bahwa, kau telah melakukan kesalahan besar yang sama sekali tak kau sadari. Ka…”

“hei, apa yang kau bicarakan. Apa maksud mu bercerita tentang ku kepada diriku sendiri? Lagi pula apa yang kau ketahui dari kehidupanku? Aku ke sini hanya ingin mendengar cerita mu di masa lalu, bukan tentang diriku.” Tiba-tiba kinan memotong pembicaraan laki-laki di hadapannya.

Lantas, laki-laki yang berusia sekitar 40-an itu terdiam seketika saat kinan menyela ceritanya. Spontan, laki-laki itu bergumam dalam hati.

“kurang ajar anak ini. mungkin orang tuanya belum sempat mengajarinya tatakrama” kondisi internal si laki-laki yang duduk di hadapan kinan itu sangat kacau setelah kinan dengan tiba-tiba menyela ceritanya. Meskipun dengan suara yang terkontrol. Ia sungguh geram dengan kinan. Meskipun begitu, ia tetap mencoba menahan amarahnya, dengan tersenyum manis ke arah kinan.

“maaf, nak. Aku terbawa oleh cerita ku sendiri”

“hhmm… baiklah, untuk kali ini aku mengalah pada bocah tengik ini” kembaran dari ayah kandung kinan kembali bergumam dalam hatinya.
Kinan hanya berdiam diri, dan terlihat menunggu. Ia menyempatkan diri menyeruput teh hangat di depannya yang hampir tak hangat lagi.

--------------------------------------------

Di luar bangunan pusat mafia-mafia berkumpul.

“sidra. Sampai kapan kita terus menunggu seperti ini? untuk beberapa alasan, aku merasa kinan tak dapat keluar dari sana. Di tempat itu, tak sembarang orang  yang di izinkan masuk. Kalaupun ada, hampir bisa di pastikan bahwa, orang itu takkan keluar dengan selamat. Atau paling tidaknya orang itu takkan pernah keluar dari sana selamanya. Entah ia masih hidup atau sudah mati, dan aku tak ingin hal itu terjadi pada kinan.” Anto yang sangat mengkhawatirkan kinan, sungguh tak tahan lagi untuk menunggu.

“Baikalah. Jika kau terus memaksa. Mari kita susun rencana.” Akhirnya sidra yang tadinya begitu sabar dan tenang menunggu, memutuskan untuk bertindak.

“Anto perhatikan baik-baik. Yang pertama. Sudah di pastikan kita tak mengetahui  bagaimana tata letak bangunan itu secara detail. Kita hanya melihatnya dari luar. Maka dari itu kita membutuhkan segala informasi tentang bangunan itu. Mulai jumlah ruangan, jumlah lantai, posisi-posisi penjaga dan paling tidak kita harus membuat peta agar kita tak tersesat di dalam sana. Jika itu terjadi, maka habislah kita. Yang kedua, kita membutuhkan akses yang sama sekali tak di curigai para penjaga. Benar apa yang kau pikirkan. Kita akan menyusup melalui pintu utama. Paham?”  Sidra yang cukup peka dengan situasi, mencoba menyusun rencana semampunya dengan sangat hati-hati.

“kemudian, bagaimana cara kita masuk melalui pintu utama?”

“Nah, itu yang mesti kita pikirkan secepat mungkin.”

Anto dan sidra mencoba memikirkan bagaimana cara mereka masuk melalui pintu utama tanpa terdeteksi oleh penjaga.

Beberapa menit waktu berlalu begitu saja tanpa membuahkan hasil apapun. Sidra dan Anto masih belum menemukan cara agar mereka dapat masuk melalui pintu utama.

………………………………….

Entah itu keberuntungan atau keajaiban yang datang di waktu yang benar-benar tepat, sidra dan kinan tak peduli. Mereka hanya bersyukur setelah seseorang menghampiri mereka.

“hei… apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini?” sidra dan anto benar-benar dikejutkan oleh kedatangan seorang pria tua yang usianya berkisar 60 tahun-an keatas. 

Tentu saja Sidra dan Anto terdiam seketika setelah dikejutkan oleh pria tua, tadi.  Mereka hanya mengelus dada dan besyukur, karena pria tua tadi, sudah tak asing lagi bagi mereka.

“hei, kalian. Jangan hanya terdiam seperti baru saja melihat hantu. Jawab aku. Apa yang kalian lakukan di sekitar kawasan “hutan rimba” ini?”

“paman sendiri, sedang apa di tempat seperti ini? Paman sudah berhenti sebagai cleaning service di stasiun kota?” ?” Sidra yang sedikit pun tak menyangka akan bertemu paman cleaning service di tempat seperti ini, spontan menanyakan si paman.

“yah… dua bulan lalu aku berhenti menjadi cleaning service di stasiun kereta kota. Karena kebetulan ada seorang teman baik ku yang juga bekerja di sini. Ia menawarkan ku untuk menjadi supir truck pembawa barang, dan aku sungguh menikmati pekerjaan ini. Baiklah, ini saatnya bagi ku untuk masuk ke dalam, aku hampir terlambat.”

“masuk? Hei, paman. Kebetulan kami sangat membutuhkan bantuan. Kinan ada di dalam sana. Entah apa yang ia lakukan, dan bagaimana caranya masuk. Tapi aku yakin ia takkan keluar dengan selamat atau takkan pernah keluar untuk selamanya. Jadi kami butuh bantuan paman.” Sidra yang memang akbrab dengan paman cleaning service stasiun kota, dengan cekatan meminta bantuan.

“kinan!? Apa maksud mu? Ba- bagaimana mungkin ? ada perlu apa dia?” si paman yang juga telah begitu akbrab dengan kinan, benar-benar terkejut dan sama sekali tak menyangka bahwa Kinan berada di dalam.

Tanpa basa-basi lagi mereka mulai bergerak. Meskipun tanpa rencana yang matang. Namun, itu sudah cukup bagi sidra dan anto, karena mereka mendapat bantuan dari si paman itu.

Nantikan lanjutannya.

Karya: Makhluk Abstrak.

Senin, 16 Mei 2016

HIDUP & MATI (25)

HIDUP dan MATI

Chapter 25

Hening. Ruangan itu hening. Kinan tak ingin berkomentar apapun, sebelum cerita si laki-laki yang mengaku sebagai ayanhnya, alias saudara kembar ayah(kandung)nya selesai. Laki-laki yang duduk di kursi pimpinan itu, menjeda ceritanya. Yang kemudian mengelambil kesempatan untuk menyeruput teh hangat di atas mejanya dan ia mencoba mengefektifkan otaknya untuk mengingat kembali masa lalu.
Dengan menikmati teh hangat, hatinya bergumam “anak ini. ia benar-benar memaksa ku untuk bernostalgia, dan itu sangat menyebalkan bagiku!"

Kinan terlihat begitu gelisah menunggu si laki-laki di hadapannya itu kembali melanjutkan ceritanya. Karna tak ingin waktunya terbuang sia-sia untuk menunggu, kinan mencoba membayangkan suasana dan kebenaran yang baru saja ia ketahui.

“Hei, nak? Apa yang kau pikirkan, jangan melamun seperti itu” laki-laki itu seketika membuyarkan lamunan si anak muda yang secara sistem kekeluargan adalah keponakannya. kinan seakan tak peduli. Ia hanya melirik tajam pamannya.

“Baiklah. Aku mengerti apa yang sedang kau pikirkan saat ini, nak. Jadi... beberapa puluh tahun yang lalu, aku dan ayah(angkat) mu yang sangat dermawan itu, boleh di kata, kami lah orang terkaya di kota ini. Tak puas dengan itu, kami pun mendirikan gedung-gedung pencakar langit, yang satu persatu berdiri menjulang tinggi menusuk langit dan menggapai awan

Segala kenikmatan dunia yang kami dapatkan, berkat kecerdasan dan keberanian ayah(angkat) mu. Ia begitu lihai dalam bidang bisnis. Ayah mu terus menerus menanam bibit-bibit unggul(investasi) di tanah yang subur. Yang kemudian, kami tinggal hanya menyiraminya dan bersabar, agar tanaman itu  tumbuh lebat dan memuaskan. Kemampuan ayah mu dalam berinvestasi, sungguh membuat orang-orang tercengang. Seiringan dengan waktu yang terus berjalan dan yang sama sekali tak kenal kompromi, usaha kami mengalir dan tak ada putus-putusnya. Bagikan derasnya sungai.

Sebagian besar pengusaha sukses yang bermandikan uang, atau dapat pula di sebut sebagai orang kaya di negri ini, berpura pura buta, tuli, membisu dan bodoh! Mereka tak tahu diri. Mereka seakan tak mengetahui bahwa, banyak orang di luar sana yang sangat membutuhkannya. Namun mereka tak peduli sama sekali. Mereka telah benar-benar di butakan oleh uang yang ia dapatkan dengan keringat mereka sendiri. Meraka bahkan menganggap bahwa hanya  mereka sajalah yang berdiri di muka bumi ini. Di balik semua itu, sebenarnya mereka hanyalah seoggok daging busuk yang berjalan dan mengotori bumi ini.

Berbeda dengan ayah mu, ia berbanding terbalik 180° dengan sebagian besar pengusaha yang sombong dan kejam itu. Ayah mu begitu baik. Teramat baik. Ia sungguh tak tega melihat para saudara sebangsa dan setanah airnya yang kurang beruntung kelaparan.

Sejak ayah mu  mendapatkan harta yang sangat melimpah itu, orang-orang yang benar-benar kurang mampu dan pengangguran, dapat bangkit kembali menerjang derasnya ombak kehidupan mereka. Ayah mu berpikir bahwa kekayaan yang ia dapatkan itu bukanlah semata-mata untuk dirinya seorang atau keluarganya sendiri. Ia yakin bahwa harta yang ia miliki saat itu adalah salah satu cara tuhan untuk menguji setiap ummat-Nya.

Di balik itu, ayah mu benar-benar paham tentang kebahagiaan atau kenikmatan dunia. Ia takkan merasa bahagia ketika hanya ia sendiri yang merasakannya. Maka dari itu, ia tak segan-segan berbagi kebahagiaan pada orang yang membutuhkan. Tapi, kau jangan salah sangka dulu, ayah mu seperti itu, bukanlah karna ia mengejar surga ataupun menjauhi neraka. Ia benar-benar ikhlas dan semata-mata untuk Tuhannya yang ia yakini.”

Sementara itu...

Anto dan sidra yang begitu penasaran dengan tingkah kinan yang berubah derastis sejak malam itu, berencana untuk membuntuti kinan kemana pun ia pergi. Namun Mereka sungguh tak bepikir sedikitpun bahwa kinan mendatangi Markas besar yang menjadi pusat berkumpulnya mafia-mafia se-negri ini. Tak banyak orang yang mengetahui tempat itu.

Dengan mata yang terbelalak dan darah yang hampir mendidih, “ H-Hei... apa yang kinan lakukan di tempat itu?” Anto yang begitu terkejut setelah tahu tempat yang kinan tuju, mencoba bertanya pada sidra. Namun, sidra tak kalah terkejutnya dengan Anto. Sidra hanya diam seribu bahasa dan mematung, dengan mulutnya yang sedikit menganga dan matanya yang terbelalak melihat tempat yang kinan tuju. 

Kamis, 28 April 2016

HIDUP dan MATI (24)

HIDUP dan MATI

Chapter 24

“Bos, ada seorang anak muda di depan pagar”.

“Siapa dia? Tanyakan apa perlunya”

Kinan yang terjebak dalam pertanyaan-pertanyan besar dalam perjalanan hidupnya, memberanikan diri untuk mendatangi “sarang singa” tanpa di temani siapapun. Kinan tak ingin melibatkan ketiga temannya hanya untuk urusan pribadinya yang di penuhi misteri, dan bisa jadi akan menjadi malapetaka bagi mereka, kinan tak ingin itu terjadi.

“Bos, dia bilang, dia inigin bertemu dengan bos”

“siapa dia?”. Laki-laki yang berusia sekitar 40-an itu, berusaha agat otaknya dapat menjawab pertanyaan hatinya.

Sebelumnya, si bos memang telah menduga, bahwa anak muda yang ia temui pada malam beberapa pekan lalu akan datang menemuinya.
“Biarkan ia masuk, tolong antarkan ke ruangan ku”.

Kinan dengan tenang dan nafasnya yang masih beraturan, berjalan di belakang penjaga yang akan menghantarkannya ke ruangan majikannya. Saat mereka berjalan melewati lorong, kinan begitu terkagum-kagum memandangi lukisan-lukisan langka,dan yang pasti harganya selangit.

Tempat itu tak terlihat seperti “Sarang Singa” yang kinan bayangkan sebelumnya. Tempat itu sungguh berbanding terbalik. Tempat itu lebih terlihat seperti “Hutan Rimba” yang dimana terdapat hewan-hewan buas lainnya, dan bahkan lebih ganas dari pada seekor singa jantan.

Kinan dan si penjaga pun telah tiba di depan ruangan bosnya. Kemudian, tanpa pamit, hanya tersenyum, si penjaga itu langsung saja  kembali ke tempatnya.
Namun, kinan masih saja berdiri di depan pintu. Tiba-tiba ia sedikit gugup, keraguan pun mulai menyerangnya. Namun, Semua itu harusnya tak dapat menungurungkan niatnya untuk menemui laki-laki yang berada di balik pintu di depannya.

Saat Kinan membuka pintu dan mulai melangkah masuk, tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang benar-benar tak dapat di percaya. Kinan sungguh terkejut, dan hampir saja ia jantungan.
“Hei, nak. Apa yang kau lakukan hanya berdiri di sana, dan behentilah menatap ku seperti itu. Tatapan mu terlihat di penuh dendam. Duduklah dan kita mulai percakapan kita.

Setelah beberapa menit, menatapi laki-laki di hadapannya itu, kinan mulai beranjak dan duduk dengan nyaman. Mungkin ia lelah.

“Jadi, hal apa yang membawa mu ketempat ku?”. Meskipun si bos tahu bahwa apa yang membuat kinan datang ke tempat ini, ia tetap bertanya dan sekaligus mengawali percakapan meraka.

“Siapa kau sebenarnya?”. Kinan mengabaikan pertanyaan bos itu. Malahan ia berbalik tanpa basa-basi menanyakan pertanyaan inti yang membawanya kemari.

“Ayolah, kau terlihat terbu-buru, santai saja. Nanti kau pasti akan tahu apa yang ingin kau ketahui”. Laki-laki itu mencoba untuk bergurau dan sedikit mendinginkan suasana.

“Kemudian, mengapa di malam itu, kau tak menghajar aku dan teman ku anto? Apa maksudmu hanya menatap ku dan pergi begitu saja tanpa satu hurufpun terucap. Padahal aku sudah mengira bahwa aku dan teman ku akan di buat babak belur oleh mu dan pasukan mu”. Kinan memperjelas pertanyaannya dan memaksanya untuk menjawab.

Kini si laki-laki yang biasa di panggil dengan sebutan bos oleh anak buahnya itu, sejenak terbungkanm dan akan serius menanggapi setiap pertanyaan kinan.

“Baiklah jika kau memaksa. Aku akan bercerita panjang lebar, dan akan ku bawa kau kembali pada masa-masa kelaam mu beberapa tahun lalu. Akan kupastikan kau merasakan hal yang sama ketika memperhatikan ceritaku”.

“Satu dekade belakangan ini, aku dan seorang laki-laki pengusaha besar dan sukses yang di juluki si “Petani Emas” itu adalah partner bisnis ku. Kami berdua begitu akrab. Tentu saja, kami pun punya hubungan keluarga. Ahh.. betul sekali apa yang ka pikirkan. Si “Petani Emas” itu adalah Ayah(angkat) mu. Kemudian, pasti kau saat melihat ku mengira bahwa aku adalah Ayah(kandung) mu yang beberapa tahun lalu telah tiada. Namun itu bukan masalah, aku maklum, karena kau tak pernah tahu bahwa aku adalah saudara kembar Ayah(kandung) mu, dan yang mengetahui itu hanyalah ayah(angkat) mu, ibu(angkat) mu, dan saudara kembar ku sendiri”. Kinan membungkam setelah mendengar ceritanya. Kinan tak tahu apa yang ingin ia katakan. Ia sunggub diam seribu bahasa atau diam tanpa kata.

“Bagaimana? Tentu saja kau masih penasaran dan masih banyak lagi hal yang akan mengejutkanmu. dengan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Tapi tenang, yang barusan hanyalah sebagai pembuka(pengantar)...”

Sabtu, 23 April 2016

HIDUP dan MATI (23)

HIDUP dan MATI

Chapter 23

Senja menyapa kota, saatnya para pekerja (yang menggunakan kendaraan) kembali memadati ruas jalan kota ini. Asap-asap tipis menghiasi kepadatan kota, suara bising kendaraan-kendaraan berirma mengiringi tarian kota, sore ini.

Sudah menjadi kebiasaan bagi kinan, mengantar senja tuk berlalu. Kemudian menyambut kekasih gelapnya sang rembulan, yang selalu setia dan mengerti.

Hari ini sedikit berbeda, Anto, Mawar dan Sidra, tak bersama disisinya. Belakangan ini setelah kejadian malam itu, kinan selalu ingin sendiri. Ia merasa tenang dan nyaman dalam kesendiriannya. Hanya saja, dibalik itu ia menyimpan pertanyaan yang mustahil dapat ia jawab sendiri. Kinan yakin, jawaban dari pertanyaan itu, ada kaitannya dengan jawaban dari pertanyaan besar dalam hidupnya.

“Siapa sebenarnya preman itu?”  tentu saja kinan bertanya-tanya, preman yang menghampirinya malam itu, sangat misterius. Bagaimana tidak, disaat suasana yang menegangkan dan begitu mencekam seperti malam itu, preman yang usianya sekitar 40-an, menghampiri kinan dan hanya berdiri dihadapannya, lalu menatap mata kinan dengan tatapan tajam dan sedikit terlihat seperti orang yang terkejut. Kemudian, melepaskan mawar yang waktu itu di jadikan sandera, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, bagai armada pesawat tempur.

Hari-hari berjalan dengan normal seperti biasanya. Sidra yang sempat kritis karena kecelakaan yang ia alami, kini telah hampir pulih sepenuhnya. Pendarahan hebat di bagian kepalanya, membuat ia kehilangan banyak darah, sehingga ia pun kritis.

Kinan yang belakangan ini melalui hari-harinya dalam kesendirian, mulai mendapatkan titik terang atas pertanyaan yang berkecamuk di otaknya. Ia berniat untuk menanyakannya langsung kepada preman itu. Ia tahu, hal itu sama saja seperti menghampiri komplotan singa yang sedang lapar. Namun meskipun begitu, ia akan tetap melakukannya, lagi pula kinan takkan tahu pasti apa yang terjadi ketika ia tidak mencobanya. 

“Mawar, apa yang terjadi pada kinan? Seakan ia menghindari untuk bersama kita. Bahkan tersenyum pun tidak.” Sidra yang tak mengetahui apapun tentang kejadian malam itu, heran melihat tingkah kinan. Namun mawar hanya terdiam, ia merasa terlalu sakit ketika mengingat kembali malam itu. Tidak heran, kulit suci cerah dan berkilau yang mawar jaga bertahun-tahun, telah terkontaminasi oleh tangan-tangan kotor dan menjijikan preman itu.
Anto yang mengerti suasana hati mawar, langsung mengambil alih pertanyaan sidra. “pada satu keadaan tertentu, setiap manusia memang membutuhkan bebrapa waktu untuk menyendiri dan mendapatkan ketenangannya. Setiap manusia yang sedang menghadapi beberapa masalah tertentu dalam kisah hidupnya, biasanya memilih untuk menyendiri dan cenderung bersikap tertutup. Dengan kata laim, manusia itu ingin memecahkan masalahnya sendiri tanpa bantaun manusia lainnya. Namun itu percuma saja. Hampir mustahil bagi manusia manapun. Nah, sama halnya dengan tingkah kinan, ia merasa bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan kita, ataupun manusia lainnya. Sekarang, yang dapat kita lakukan hanya menunggu hingga kinan menyadari kekeliruannya.”

“siapa seberanya preman itu, mengapa ia hanya menatap ku dengan tatapan tajamnya, bukan menghajarku? Bukankah itu yang ia harapkan.” Kinan kembali menanyakan hal itu pada hati dan pikirannya, lalu kemudian memaksa untuk menjawab. Tetap saja, semua yang ia lakukan untuk mencari jawaban, percuma saja. Hingga ia pun menyadari bahwa ia takkan mampu untuk mencari jawaban itu tanpa orang lain. Meskipun begitu, tetap hanya ada satu cara baginya untuk mendapat jawaban itu.

Sabtu, 16 April 2016

HIDUP dan MATI (22)

HIDUP dan MATI

Chapter 22

Malam semakin larut, dan benar-benar sepi. Tak ada seorangpun yang berkeliaran. Kota ini terlihat seperti kota mati,  tak berpenghuni. Sinar purnama pun mulai meredup akibat gumpalan awan mendung yang menghalanginya.

Salah seorang dari preman-preman itu mulai melangkah perlahan menghampiri Kinan dan Anto yang tak begitu jauh. Yah, ia adalah pimpinan dari kelompok preman.  Lalu, saat preman itu tiba, semua di luar dugaan Kinan dan Anto. Preman itu tak menyerang, hanya berdiri menghadap Kinan dan Anto. Kemudian menatap mata kinan dengan  tatapan penuh tanda tanya.

Cukup lama mereka bersitatap.Suasanya begitu menegangkan bagi yang melihat Kinan, Anto dan perman itu berhadapan. Meskipun mereka terlihat begitu tenang.

Langit mulai membasahi kota. Tapi, tak ada seorangpun yang terlihat ingin mencari tempat berteduh. Semuanya teramat fokus memandangi tiga orang yang berhadapan.

Preman yang cukup lama bersitatap dengan Kinan dan Anto, kini ia mundur selangkah, lalu berkalik dan kembali.
“Apa ia telah selesai?” Kinan benar-benar tak mengerti, Demikian pula dengan Anto.

Preman yang menghampiri Kinan dan Anto tadi, terlihat sedang membicarakan sesuatu.
“Hei, Anto. Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka akan bersiap untuk menyerang kita?” Kinan bertanya.
“Entahlah. Kita lihat saja, apa yang akan terjadi malam ini.” Tentu saja Anto tak tahu apa-apa tentang apa yang preman-preman itu bicarakan. Bagi kinan, ini pertama kalinya melihat Anto begitu tenang dalam situasi saat ini.


Setelah mereka selesai, Tali yang mengikat tangan mawar, tiba-tiba di lepas begitu saja, dan kain yang menyumpal mulut mawar juga di lepas. Lalu, mawar pun di biarkan begitu saja menghampiri Kinan dan Anto. Mawar berjalan membelah hujan yang cukup deras. Keadaan mawar basah kuyup.
“Apa sebenarnya maksud mereka?” Kinan semakin bingung.

Setelah mawar tiba, preman-preman itu pergi begitu saja tanpa melakukan apapun. Preman yang sempat berhadapan dengan Kinan dan Anto, Menoleh. Pandangan untuk mengakhiri  kejadian malam ini.