Sabtu, 04 Juni 2016

HIDUP & MATI (26)


SERIAL

HIDUP & MATI

Chapter 26

Kini Kinan hanya terfokus pada laki-laki berusia sekitar 40-an yang sedang bercerita tentang masa lalu keluarganya, yang tentunya sangat berkaitan dengan masa lalu orang tua kandung maupun angkat Kinan.

Beberapa tahun lalu, setelah kejadian tragis itu, Kinan mulai menyimpan pertanyaan besar dalam kepalanya, dan itu cukup mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai pelajar. Di tambah lagi dengan keraguan yang menyelimuti pertanyaannya, Kinan benar-benar hampir frustasi. Ia terlalu “Takut” untuk bertanya kepada kedua orang tua angkatnya tentang hal ini. Sebelumnya Kinan memang sangat yakin bahwa pertanyaannya akan terjawab jika ia memiliki setetes saja keberanian dalam hatinya. Namun di sisilain, ia pun meyakini bahwa, jika ia memiliki setetes saja keberanian dalam hatinya, maka akan ada hati lain yang tersakiti oleh pertanyaan itu. Kinan akan merasa menjadi manusia paling egois ketika hal itu terjadi. Tentu saja itu akan terlihat seperti ia terlalu mengedepankan egonya hanya demi suatu hal yang mengganggu, lalu merelakan hati orang tua angkatnya yang membesarkannya ia sakiti.

“Apa yang terjadi pada saat itu?” yah… mungkin itu terlihat terlalu sederhana untuk sebuah pertanyaan yang mengganggu dan bahkan dapat menyakiti seseorang ketika itu di lontarkan. Maka dari itulah Kinan masih menyimpan pertanyaan besarnya hingga kedua orang tua(angkat)nya meninggal, dan bahkan hingga saat ini. Tentu saja ia tak menyesali keputusannya. Ia tahu bahwa masih ada seseorang yang dapat menjawab pertanyaannya. Hanya saja yang menjadi masalah, ia bahkan tak mengetahui bahwa orang itu masih menapakkan kaki di muka bumi ini ataukah telah berada di surga. Di tambah lagi, ia tak sedikit pun dapat membayangkan bentuk rupa orang itu.

Setelah itu waktu terus melaju tak pandang bulu dan menyisakan masa-masa pahit dalam hidup Kinan, yang sama sekali tak bisa dilupakan. banyak hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Namun, ia selalu saja mengabaikannya. Hingga tiba pada satu malam yang sangat menegangkan dan begitu mencekam di tengah kota.

¬¬¬---------------------------

“Nak, Kinan. Tentunya kau telah paham, bahwa manusia adalah wujud dari pada makhluk  sempurna dialam semesta ini. Namun kesempurnaan itu hanya berlaku pada bentuknya saja, tidak untuk tingkah laku. Maka dari itu, sudah menjadi hal wajar ketika manusia melakukan kesalahan. Baik di sengaja maupun tidak disengaja. Namun, 5 dari 10 manusia terkadang tak menyadari dirinya bahwa ia telah melakukan hal yang menyimpang. Entah itu dalam kehidupan sosial maupun kehidupan beragama. Nah, karena hal itulah aku merasa bahwa dirimu termasuk dalam 5 dari 10 manusia yang terkadang tak menyadari kesalahannya. Nak, Kinan. Bukan maksud ku untuk mencampuri urusanmu. Hanya saja, apapun yang akan terjadi, urusanmu dan urusanku telah menjadi satu kesatuan. Dengan kata lain, urusanmu adalah urusanku. Aku sebagai pamanmu, tak begitu mengerti jalan pikiranmu. Tapi, aku harus mengatakan kepadamu bahwa, kau telah melakukan kesalahan besar yang sama sekali tak kau sadari. Ka…”

“hei, apa yang kau bicarakan. Apa maksud mu bercerita tentang ku kepada diriku sendiri? Lagi pula apa yang kau ketahui dari kehidupanku? Aku ke sini hanya ingin mendengar cerita mu di masa lalu, bukan tentang diriku.” Tiba-tiba kinan memotong pembicaraan laki-laki di hadapannya.

Lantas, laki-laki yang berusia sekitar 40-an itu terdiam seketika saat kinan menyela ceritanya. Spontan, laki-laki itu bergumam dalam hati.

“kurang ajar anak ini. mungkin orang tuanya belum sempat mengajarinya tatakrama” kondisi internal si laki-laki yang duduk di hadapan kinan itu sangat kacau setelah kinan dengan tiba-tiba menyela ceritanya. Meskipun dengan suara yang terkontrol. Ia sungguh geram dengan kinan. Meskipun begitu, ia tetap mencoba menahan amarahnya, dengan tersenyum manis ke arah kinan.

“maaf, nak. Aku terbawa oleh cerita ku sendiri”

“hhmm… baiklah, untuk kali ini aku mengalah pada bocah tengik ini” kembaran dari ayah kandung kinan kembali bergumam dalam hatinya.
Kinan hanya berdiam diri, dan terlihat menunggu. Ia menyempatkan diri menyeruput teh hangat di depannya yang hampir tak hangat lagi.

--------------------------------------------

Di luar bangunan pusat mafia-mafia berkumpul.

“sidra. Sampai kapan kita terus menunggu seperti ini? untuk beberapa alasan, aku merasa kinan tak dapat keluar dari sana. Di tempat itu, tak sembarang orang  yang di izinkan masuk. Kalaupun ada, hampir bisa di pastikan bahwa, orang itu takkan keluar dengan selamat. Atau paling tidaknya orang itu takkan pernah keluar dari sana selamanya. Entah ia masih hidup atau sudah mati, dan aku tak ingin hal itu terjadi pada kinan.” Anto yang sangat mengkhawatirkan kinan, sungguh tak tahan lagi untuk menunggu.

“Baikalah. Jika kau terus memaksa. Mari kita susun rencana.” Akhirnya sidra yang tadinya begitu sabar dan tenang menunggu, memutuskan untuk bertindak.

“Anto perhatikan baik-baik. Yang pertama. Sudah di pastikan kita tak mengetahui  bagaimana tata letak bangunan itu secara detail. Kita hanya melihatnya dari luar. Maka dari itu kita membutuhkan segala informasi tentang bangunan itu. Mulai jumlah ruangan, jumlah lantai, posisi-posisi penjaga dan paling tidak kita harus membuat peta agar kita tak tersesat di dalam sana. Jika itu terjadi, maka habislah kita. Yang kedua, kita membutuhkan akses yang sama sekali tak di curigai para penjaga. Benar apa yang kau pikirkan. Kita akan menyusup melalui pintu utama. Paham?”  Sidra yang cukup peka dengan situasi, mencoba menyusun rencana semampunya dengan sangat hati-hati.

“kemudian, bagaimana cara kita masuk melalui pintu utama?”

“Nah, itu yang mesti kita pikirkan secepat mungkin.”

Anto dan sidra mencoba memikirkan bagaimana cara mereka masuk melalui pintu utama tanpa terdeteksi oleh penjaga.

Beberapa menit waktu berlalu begitu saja tanpa membuahkan hasil apapun. Sidra dan Anto masih belum menemukan cara agar mereka dapat masuk melalui pintu utama.

………………………………….

Entah itu keberuntungan atau keajaiban yang datang di waktu yang benar-benar tepat, sidra dan kinan tak peduli. Mereka hanya bersyukur setelah seseorang menghampiri mereka.

“hei… apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini?” sidra dan anto benar-benar dikejutkan oleh kedatangan seorang pria tua yang usianya berkisar 60 tahun-an keatas. 

Tentu saja Sidra dan Anto terdiam seketika setelah dikejutkan oleh pria tua, tadi.  Mereka hanya mengelus dada dan besyukur, karena pria tua tadi, sudah tak asing lagi bagi mereka.

“hei, kalian. Jangan hanya terdiam seperti baru saja melihat hantu. Jawab aku. Apa yang kalian lakukan di sekitar kawasan “hutan rimba” ini?”

“paman sendiri, sedang apa di tempat seperti ini? Paman sudah berhenti sebagai cleaning service di stasiun kota?” ?” Sidra yang sedikit pun tak menyangka akan bertemu paman cleaning service di tempat seperti ini, spontan menanyakan si paman.

“yah… dua bulan lalu aku berhenti menjadi cleaning service di stasiun kereta kota. Karena kebetulan ada seorang teman baik ku yang juga bekerja di sini. Ia menawarkan ku untuk menjadi supir truck pembawa barang, dan aku sungguh menikmati pekerjaan ini. Baiklah, ini saatnya bagi ku untuk masuk ke dalam, aku hampir terlambat.”

“masuk? Hei, paman. Kebetulan kami sangat membutuhkan bantuan. Kinan ada di dalam sana. Entah apa yang ia lakukan, dan bagaimana caranya masuk. Tapi aku yakin ia takkan keluar dengan selamat atau takkan pernah keluar untuk selamanya. Jadi kami butuh bantuan paman.” Sidra yang memang akbrab dengan paman cleaning service stasiun kota, dengan cekatan meminta bantuan.

“kinan!? Apa maksud mu? Ba- bagaimana mungkin ? ada perlu apa dia?” si paman yang juga telah begitu akbrab dengan kinan, benar-benar terkejut dan sama sekali tak menyangka bahwa Kinan berada di dalam.

Tanpa basa-basi lagi mereka mulai bergerak. Meskipun tanpa rencana yang matang. Namun, itu sudah cukup bagi sidra dan anto, karena mereka mendapat bantuan dari si paman itu.

Nantikan lanjutannya.

Karya: Makhluk Abstrak.

Senin, 16 Mei 2016

HIDUP & MATI (25)

HIDUP dan MATI

Chapter 25

Hening. Ruangan itu hening. Kinan tak ingin berkomentar apapun, sebelum cerita si laki-laki yang mengaku sebagai ayanhnya, alias saudara kembar ayah(kandung)nya selesai. Laki-laki yang duduk di kursi pimpinan itu, menjeda ceritanya. Yang kemudian mengelambil kesempatan untuk menyeruput teh hangat di atas mejanya dan ia mencoba mengefektifkan otaknya untuk mengingat kembali masa lalu.
Dengan menikmati teh hangat, hatinya bergumam “anak ini. ia benar-benar memaksa ku untuk bernostalgia, dan itu sangat menyebalkan bagiku!"

Kinan terlihat begitu gelisah menunggu si laki-laki di hadapannya itu kembali melanjutkan ceritanya. Karna tak ingin waktunya terbuang sia-sia untuk menunggu, kinan mencoba membayangkan suasana dan kebenaran yang baru saja ia ketahui.

“Hei, nak? Apa yang kau pikirkan, jangan melamun seperti itu” laki-laki itu seketika membuyarkan lamunan si anak muda yang secara sistem kekeluargan adalah keponakannya. kinan seakan tak peduli. Ia hanya melirik tajam pamannya.

“Baiklah. Aku mengerti apa yang sedang kau pikirkan saat ini, nak. Jadi... beberapa puluh tahun yang lalu, aku dan ayah(angkat) mu yang sangat dermawan itu, boleh di kata, kami lah orang terkaya di kota ini. Tak puas dengan itu, kami pun mendirikan gedung-gedung pencakar langit, yang satu persatu berdiri menjulang tinggi menusuk langit dan menggapai awan

Segala kenikmatan dunia yang kami dapatkan, berkat kecerdasan dan keberanian ayah(angkat) mu. Ia begitu lihai dalam bidang bisnis. Ayah mu terus menerus menanam bibit-bibit unggul(investasi) di tanah yang subur. Yang kemudian, kami tinggal hanya menyiraminya dan bersabar, agar tanaman itu  tumbuh lebat dan memuaskan. Kemampuan ayah mu dalam berinvestasi, sungguh membuat orang-orang tercengang. Seiringan dengan waktu yang terus berjalan dan yang sama sekali tak kenal kompromi, usaha kami mengalir dan tak ada putus-putusnya. Bagikan derasnya sungai.

Sebagian besar pengusaha sukses yang bermandikan uang, atau dapat pula di sebut sebagai orang kaya di negri ini, berpura pura buta, tuli, membisu dan bodoh! Mereka tak tahu diri. Mereka seakan tak mengetahui bahwa, banyak orang di luar sana yang sangat membutuhkannya. Namun mereka tak peduli sama sekali. Mereka telah benar-benar di butakan oleh uang yang ia dapatkan dengan keringat mereka sendiri. Meraka bahkan menganggap bahwa hanya  mereka sajalah yang berdiri di muka bumi ini. Di balik semua itu, sebenarnya mereka hanyalah seoggok daging busuk yang berjalan dan mengotori bumi ini.

Berbeda dengan ayah mu, ia berbanding terbalik 180° dengan sebagian besar pengusaha yang sombong dan kejam itu. Ayah mu begitu baik. Teramat baik. Ia sungguh tak tega melihat para saudara sebangsa dan setanah airnya yang kurang beruntung kelaparan.

Sejak ayah mu  mendapatkan harta yang sangat melimpah itu, orang-orang yang benar-benar kurang mampu dan pengangguran, dapat bangkit kembali menerjang derasnya ombak kehidupan mereka. Ayah mu berpikir bahwa kekayaan yang ia dapatkan itu bukanlah semata-mata untuk dirinya seorang atau keluarganya sendiri. Ia yakin bahwa harta yang ia miliki saat itu adalah salah satu cara tuhan untuk menguji setiap ummat-Nya.

Di balik itu, ayah mu benar-benar paham tentang kebahagiaan atau kenikmatan dunia. Ia takkan merasa bahagia ketika hanya ia sendiri yang merasakannya. Maka dari itu, ia tak segan-segan berbagi kebahagiaan pada orang yang membutuhkan. Tapi, kau jangan salah sangka dulu, ayah mu seperti itu, bukanlah karna ia mengejar surga ataupun menjauhi neraka. Ia benar-benar ikhlas dan semata-mata untuk Tuhannya yang ia yakini.”

Sementara itu...

Anto dan sidra yang begitu penasaran dengan tingkah kinan yang berubah derastis sejak malam itu, berencana untuk membuntuti kinan kemana pun ia pergi. Namun Mereka sungguh tak bepikir sedikitpun bahwa kinan mendatangi Markas besar yang menjadi pusat berkumpulnya mafia-mafia se-negri ini. Tak banyak orang yang mengetahui tempat itu.

Dengan mata yang terbelalak dan darah yang hampir mendidih, “ H-Hei... apa yang kinan lakukan di tempat itu?” Anto yang begitu terkejut setelah tahu tempat yang kinan tuju, mencoba bertanya pada sidra. Namun, sidra tak kalah terkejutnya dengan Anto. Sidra hanya diam seribu bahasa dan mematung, dengan mulutnya yang sedikit menganga dan matanya yang terbelalak melihat tempat yang kinan tuju. 

Kamis, 28 April 2016

HIDUP dan MATI (24)

HIDUP dan MATI

Chapter 24

“Bos, ada seorang anak muda di depan pagar”.

“Siapa dia? Tanyakan apa perlunya”

Kinan yang terjebak dalam pertanyaan-pertanyan besar dalam perjalanan hidupnya, memberanikan diri untuk mendatangi “sarang singa” tanpa di temani siapapun. Kinan tak ingin melibatkan ketiga temannya hanya untuk urusan pribadinya yang di penuhi misteri, dan bisa jadi akan menjadi malapetaka bagi mereka, kinan tak ingin itu terjadi.

“Bos, dia bilang, dia inigin bertemu dengan bos”

“siapa dia?”. Laki-laki yang berusia sekitar 40-an itu, berusaha agat otaknya dapat menjawab pertanyaan hatinya.

Sebelumnya, si bos memang telah menduga, bahwa anak muda yang ia temui pada malam beberapa pekan lalu akan datang menemuinya.
“Biarkan ia masuk, tolong antarkan ke ruangan ku”.

Kinan dengan tenang dan nafasnya yang masih beraturan, berjalan di belakang penjaga yang akan menghantarkannya ke ruangan majikannya. Saat mereka berjalan melewati lorong, kinan begitu terkagum-kagum memandangi lukisan-lukisan langka,dan yang pasti harganya selangit.

Tempat itu tak terlihat seperti “Sarang Singa” yang kinan bayangkan sebelumnya. Tempat itu sungguh berbanding terbalik. Tempat itu lebih terlihat seperti “Hutan Rimba” yang dimana terdapat hewan-hewan buas lainnya, dan bahkan lebih ganas dari pada seekor singa jantan.

Kinan dan si penjaga pun telah tiba di depan ruangan bosnya. Kemudian, tanpa pamit, hanya tersenyum, si penjaga itu langsung saja  kembali ke tempatnya.
Namun, kinan masih saja berdiri di depan pintu. Tiba-tiba ia sedikit gugup, keraguan pun mulai menyerangnya. Namun, Semua itu harusnya tak dapat menungurungkan niatnya untuk menemui laki-laki yang berada di balik pintu di depannya.

Saat Kinan membuka pintu dan mulai melangkah masuk, tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang benar-benar tak dapat di percaya. Kinan sungguh terkejut, dan hampir saja ia jantungan.
“Hei, nak. Apa yang kau lakukan hanya berdiri di sana, dan behentilah menatap ku seperti itu. Tatapan mu terlihat di penuh dendam. Duduklah dan kita mulai percakapan kita.

Setelah beberapa menit, menatapi laki-laki di hadapannya itu, kinan mulai beranjak dan duduk dengan nyaman. Mungkin ia lelah.

“Jadi, hal apa yang membawa mu ketempat ku?”. Meskipun si bos tahu bahwa apa yang membuat kinan datang ke tempat ini, ia tetap bertanya dan sekaligus mengawali percakapan meraka.

“Siapa kau sebenarnya?”. Kinan mengabaikan pertanyaan bos itu. Malahan ia berbalik tanpa basa-basi menanyakan pertanyaan inti yang membawanya kemari.

“Ayolah, kau terlihat terbu-buru, santai saja. Nanti kau pasti akan tahu apa yang ingin kau ketahui”. Laki-laki itu mencoba untuk bergurau dan sedikit mendinginkan suasana.

“Kemudian, mengapa di malam itu, kau tak menghajar aku dan teman ku anto? Apa maksudmu hanya menatap ku dan pergi begitu saja tanpa satu hurufpun terucap. Padahal aku sudah mengira bahwa aku dan teman ku akan di buat babak belur oleh mu dan pasukan mu”. Kinan memperjelas pertanyaannya dan memaksanya untuk menjawab.

Kini si laki-laki yang biasa di panggil dengan sebutan bos oleh anak buahnya itu, sejenak terbungkanm dan akan serius menanggapi setiap pertanyaan kinan.

“Baiklah jika kau memaksa. Aku akan bercerita panjang lebar, dan akan ku bawa kau kembali pada masa-masa kelaam mu beberapa tahun lalu. Akan kupastikan kau merasakan hal yang sama ketika memperhatikan ceritaku”.

“Satu dekade belakangan ini, aku dan seorang laki-laki pengusaha besar dan sukses yang di juluki si “Petani Emas” itu adalah partner bisnis ku. Kami berdua begitu akrab. Tentu saja, kami pun punya hubungan keluarga. Ahh.. betul sekali apa yang ka pikirkan. Si “Petani Emas” itu adalah Ayah(angkat) mu. Kemudian, pasti kau saat melihat ku mengira bahwa aku adalah Ayah(kandung) mu yang beberapa tahun lalu telah tiada. Namun itu bukan masalah, aku maklum, karena kau tak pernah tahu bahwa aku adalah saudara kembar Ayah(kandung) mu, dan yang mengetahui itu hanyalah ayah(angkat) mu, ibu(angkat) mu, dan saudara kembar ku sendiri”. Kinan membungkam setelah mendengar ceritanya. Kinan tak tahu apa yang ingin ia katakan. Ia sunggub diam seribu bahasa atau diam tanpa kata.

“Bagaimana? Tentu saja kau masih penasaran dan masih banyak lagi hal yang akan mengejutkanmu. dengan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Tapi tenang, yang barusan hanyalah sebagai pembuka(pengantar)...”

Sabtu, 23 April 2016

HIDUP dan MATI (23)

HIDUP dan MATI

Chapter 23

Senja menyapa kota, saatnya para pekerja (yang menggunakan kendaraan) kembali memadati ruas jalan kota ini. Asap-asap tipis menghiasi kepadatan kota, suara bising kendaraan-kendaraan berirma mengiringi tarian kota, sore ini.

Sudah menjadi kebiasaan bagi kinan, mengantar senja tuk berlalu. Kemudian menyambut kekasih gelapnya sang rembulan, yang selalu setia dan mengerti.

Hari ini sedikit berbeda, Anto, Mawar dan Sidra, tak bersama disisinya. Belakangan ini setelah kejadian malam itu, kinan selalu ingin sendiri. Ia merasa tenang dan nyaman dalam kesendiriannya. Hanya saja, dibalik itu ia menyimpan pertanyaan yang mustahil dapat ia jawab sendiri. Kinan yakin, jawaban dari pertanyaan itu, ada kaitannya dengan jawaban dari pertanyaan besar dalam hidupnya.

“Siapa sebenarnya preman itu?”  tentu saja kinan bertanya-tanya, preman yang menghampirinya malam itu, sangat misterius. Bagaimana tidak, disaat suasana yang menegangkan dan begitu mencekam seperti malam itu, preman yang usianya sekitar 40-an, menghampiri kinan dan hanya berdiri dihadapannya, lalu menatap mata kinan dengan tatapan tajam dan sedikit terlihat seperti orang yang terkejut. Kemudian, melepaskan mawar yang waktu itu di jadikan sandera, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, bagai armada pesawat tempur.

Hari-hari berjalan dengan normal seperti biasanya. Sidra yang sempat kritis karena kecelakaan yang ia alami, kini telah hampir pulih sepenuhnya. Pendarahan hebat di bagian kepalanya, membuat ia kehilangan banyak darah, sehingga ia pun kritis.

Kinan yang belakangan ini melalui hari-harinya dalam kesendirian, mulai mendapatkan titik terang atas pertanyaan yang berkecamuk di otaknya. Ia berniat untuk menanyakannya langsung kepada preman itu. Ia tahu, hal itu sama saja seperti menghampiri komplotan singa yang sedang lapar. Namun meskipun begitu, ia akan tetap melakukannya, lagi pula kinan takkan tahu pasti apa yang terjadi ketika ia tidak mencobanya. 

“Mawar, apa yang terjadi pada kinan? Seakan ia menghindari untuk bersama kita. Bahkan tersenyum pun tidak.” Sidra yang tak mengetahui apapun tentang kejadian malam itu, heran melihat tingkah kinan. Namun mawar hanya terdiam, ia merasa terlalu sakit ketika mengingat kembali malam itu. Tidak heran, kulit suci cerah dan berkilau yang mawar jaga bertahun-tahun, telah terkontaminasi oleh tangan-tangan kotor dan menjijikan preman itu.
Anto yang mengerti suasana hati mawar, langsung mengambil alih pertanyaan sidra. “pada satu keadaan tertentu, setiap manusia memang membutuhkan bebrapa waktu untuk menyendiri dan mendapatkan ketenangannya. Setiap manusia yang sedang menghadapi beberapa masalah tertentu dalam kisah hidupnya, biasanya memilih untuk menyendiri dan cenderung bersikap tertutup. Dengan kata laim, manusia itu ingin memecahkan masalahnya sendiri tanpa bantaun manusia lainnya. Namun itu percuma saja. Hampir mustahil bagi manusia manapun. Nah, sama halnya dengan tingkah kinan, ia merasa bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan kita, ataupun manusia lainnya. Sekarang, yang dapat kita lakukan hanya menunggu hingga kinan menyadari kekeliruannya.”

“siapa seberanya preman itu, mengapa ia hanya menatap ku dengan tatapan tajamnya, bukan menghajarku? Bukankah itu yang ia harapkan.” Kinan kembali menanyakan hal itu pada hati dan pikirannya, lalu kemudian memaksa untuk menjawab. Tetap saja, semua yang ia lakukan untuk mencari jawaban, percuma saja. Hingga ia pun menyadari bahwa ia takkan mampu untuk mencari jawaban itu tanpa orang lain. Meskipun begitu, tetap hanya ada satu cara baginya untuk mendapat jawaban itu.

Sabtu, 16 April 2016

HIDUP dan MATI (22)

HIDUP dan MATI

Chapter 22

Malam semakin larut, dan benar-benar sepi. Tak ada seorangpun yang berkeliaran. Kota ini terlihat seperti kota mati,  tak berpenghuni. Sinar purnama pun mulai meredup akibat gumpalan awan mendung yang menghalanginya.

Salah seorang dari preman-preman itu mulai melangkah perlahan menghampiri Kinan dan Anto yang tak begitu jauh. Yah, ia adalah pimpinan dari kelompok preman.  Lalu, saat preman itu tiba, semua di luar dugaan Kinan dan Anto. Preman itu tak menyerang, hanya berdiri menghadap Kinan dan Anto. Kemudian menatap mata kinan dengan  tatapan penuh tanda tanya.

Cukup lama mereka bersitatap.Suasanya begitu menegangkan bagi yang melihat Kinan, Anto dan perman itu berhadapan. Meskipun mereka terlihat begitu tenang.

Langit mulai membasahi kota. Tapi, tak ada seorangpun yang terlihat ingin mencari tempat berteduh. Semuanya teramat fokus memandangi tiga orang yang berhadapan.

Preman yang cukup lama bersitatap dengan Kinan dan Anto, kini ia mundur selangkah, lalu berkalik dan kembali.
“Apa ia telah selesai?” Kinan benar-benar tak mengerti, Demikian pula dengan Anto.

Preman yang menghampiri Kinan dan Anto tadi, terlihat sedang membicarakan sesuatu.
“Hei, Anto. Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka akan bersiap untuk menyerang kita?” Kinan bertanya.
“Entahlah. Kita lihat saja, apa yang akan terjadi malam ini.” Tentu saja Anto tak tahu apa-apa tentang apa yang preman-preman itu bicarakan. Bagi kinan, ini pertama kalinya melihat Anto begitu tenang dalam situasi saat ini.


Setelah mereka selesai, Tali yang mengikat tangan mawar, tiba-tiba di lepas begitu saja, dan kain yang menyumpal mulut mawar juga di lepas. Lalu, mawar pun di biarkan begitu saja menghampiri Kinan dan Anto. Mawar berjalan membelah hujan yang cukup deras. Keadaan mawar basah kuyup.
“Apa sebenarnya maksud mereka?” Kinan semakin bingung.

Setelah mawar tiba, preman-preman itu pergi begitu saja tanpa melakukan apapun. Preman yang sempat berhadapan dengan Kinan dan Anto, Menoleh. Pandangan untuk mengakhiri  kejadian malam ini.

Senin, 11 April 2016

HIDUP dan MATI (21)

HIDUP dan MATI

Chapter 21

Suasana kota malam ini begitu menegangkan, setelah segerombolan pereman bergaya mirip rocker, mengenakan kalung rantai, dan rambut panjang yang terlihat gersang, di tambah lagi wajah-wajah mereka yang sangar, datang bagaikan gelombang tsunami.

Kinan dan Anto sangat terkejut melihat segerombolan preman yang tiba-tiba muncul menghadang.

“Apakah secepat ini mereka akan membalas?” Kinan bergumam dalam hati.

Tak sedikitpun terbesit dalam benak Kinan maupun Anto, bahwa akan secepat ini mereka membalas. Bukan hanya itu, jumlah mereka pun jauh lebih banyak. Jika di bandingkan dengan mereka berdua, pastinya Kinan dan Anto akan babak belur dibuatnya.

Tak lama setelah kemunculan preman-preman itu, Kinan dan Anto berpikir untuk mundur, atau mereka akan hancur malam ini.
“Hei, Anto. Beginilah resikonya perbuatan baik”. Kinan sedikit melunakkan keadaan. Namun Anto terlampau terbawa suasana, sehingga tak menggubris perkataan Kinan.

Kinan dan Anto bersitatap, saling memberi kode untuk sama-sama pergi dari tempat ini dan lari sekencang mungkin.

Namun, sesaat sebelum mereka melangkah untuk pergi, muncul seorang perempuan dari balik gerombolan preman yang menghadang. Dengan tangan yang terikat dan mulut yang di sekap.

Kinan dan Anto tak bergeming sedikitpun ketika melihat perempuan yang bersama gerombolan preman itu. Kaki mereka seakan kaku seketika. Mata mereka membelalak, terkejut dan tak menyangka.

Kini air mata perempuan pujaan kinan dan sekaligus bagian dari kehidupannya, meneteskan air mata kepedihan. Hal itu, sungguh membuat Kinan dan Anto benar-benar geram.

Setelah Kinan dan Anto mengetahui bahwa perempuan itu adalah mawar, mereka tak lagi peduli dengan apa yang akan terjadi. Bahkan kemungkinan terburuk yang mereka bayangkan pun tak dapat mengalahkan tekadnya.
“Hei, kalian. Apa yang kalian inginkan? Lepaskan perempuan itu” Kinan berteriak, mencoba melakukan sesuatu. Meskipun ia tahu bahwa perkataannya akan sia-sia saja.

Preman-preman itu menganggap perkataan Kinan adalah lelucon. Mereka tertawa dengan irama mengejek.

Kinan dan Anto benar-benar semakin geram, ketika salah satu dari preman itu akan menyentuh lembut pipi, mawar.
“Hei, jangan sentuh dia!!” Kali ini Kinan membentak.

Namun kali ini pekataannya tak sia-sia, preman itu mengurungkan niatnya.

Kinan dan Anto sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Mereka memutuskan untuk tidak lari, dan melawan sebisa mungkin.

Sabtu, 09 April 2016

HIDUP dan MATI (20)

HIDUP dan MATI

Chapter 20

“dimana mereka, mawar?” Sidra yang masih berbaring lemas, dan baru saja siuman langsung menanyakan keberadaan kinan, dan anto. Tentu saja, pada saat sidra membuka matanya, ia tak mendapati Kinan dan Anto di sekitarnya.

“Sebentar lagi mereka akan datang kok” Mawar mencoba menenangkan sidra yang terbaring lemah.

Namun, setalah tiga puluh menit berlalu, mereka belum jua menampakkan diri. Kemudian, mawar memutuskan akan Pergi mencari mereka berdua. Ia benar-benar tahu di mana Kinan dan anto berada saat ini.

......

“Anto’, dari mana suara itu?” Kinan mulai gelisah..
“Itu dia, Kinan!”
Tanpa basa-basi lagi, anto dan kinan segera berlari ke arah suara jeritan perempuan minta tolong. Perempuan itu di rayu, di goda oleh dua preman gondrong, yang sekujur tubuhnya di penuhi tatto. Bentuk badan mereka cukup besar. Tapi itu bukanlah alasan bagi anto maupun kinan untuk takut, apalagi lari terbirit-birit dan membiarkan perempuan itu di goda oleh preman.

Lorong gelap itu, tiba-tiba hening saat kinan dan anto tiba, setelah beberapa saat hening, kemudian terlepaslah tawa terbahak-bahak kedua preman itu, suara tawa mereka bergema di lorong itu.

Preman itu benar-benar membangkitkan hasrat membunuh, Kinan dan Anto. Tanpa perlu berunding lagi, Anto dan Kinan maju dengan kepalan tangan, yang kemudian mendarat di masing-masing pipi preman itu. Sontak saja kedua preman itu mencoba membalas. Maka perkelahian Anto dan Kinan dengan dua orang preman tak terelakkan. Tendangan melayang-layang, pukulan berterbang-terbangan.

Darah bercucuran dari lubang hidung salah satu preman itu. Belum puas, Kinan dan Anto terus melancarkan pukulan dan tendangan sebagai pelajaran. Kedua preman itu babak belur setelah di hajar habis-habisan oleh kinan dan anto. Mereka lari terbirit-birit sambil sesekali menoleh dan mengacungkan tangan dengan kepalan, ke arah Kinan dan anto, seakan ingin balas dendam.

Kinan dan anto hampir melupakan perempuan tadi. Entah kemana perginya, bahkan, mereka belum sempat memperhatikan wajah perempuan yang berperawakan islami tadi. Persis seperti mawar.

Malam semakin larut, jalan kota semakin sepi. Suasana terasa begitu mencekam. Sudah cukup jauh kinan dan anto berjalan membelah sepinya kota.

Namun, Tiba-tiba saja mereka berhenti, tak ada sedikitpun gerakan tambahan, tubuh kinan dan anto mematung, setelah melihat apa yang menghadang mereka

Kamis, 07 April 2016

HIDUP dan MATI (19)

HIDUP dan MATI

Chapter 19

Langit malam yang cerah, tampak jelas hamparan bintang-bintang membentuk formasi, memanjakan mata siapapun yang memandangnya.

Kinan tak kunjung beranjak dari tempatnya. Ia begitu terpukul. Namun, bukan berarti ia akan drop, apa lagi menyerah dengan keadaan. Hanya saja, kinan mencoba menenangkan hatinya, mencoba tegar dan yang paling penting adalah ia terus-menerus mendo’akan saudara tak sedarahnya, yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Bila di pandangi dari tempat dimana kinan berada, sinar-sinar kota, persis seperti taburan bintang-bintang di langit. Sinarnya melukiskan terang di kaki langit.

Kinan berdiri tegap menghadap perkotaan. Angin malam membawa sejuta irama yang mendamaikan. Anto yang baru saja sampai, hanya berdiri menatap punggung kinan. Anto masih enggan untuk mengacaukan perasaan kinan saat ini. Tapi, anto harus memberitahu kinan tentang kabar baik yang ia bawa.

“Ki’.. Kinan..” Anto bergumam resah.
“Sidra sudah membuka matanya. Mari kita ke rumah sakit.”  Tanpa basa-basi anto langsung mengajak kinan untuk kembali ke rumah sakit.

Kinan tak bergeming sedikitpun saat mendengar kabar baik dari anto. Kinan merasa bahwa, ia sungguh tak tega melihat sidra terbaring lemas tak berdaya.

“Kinan, ayolah. Jangan melamun seperti itu, Sidra pasti menanyakan kita.” Anto mencoba membujuk kinan, agar segera beranjak.

Kinan tak begitu memperhatikan, hanya separuh menoleh ke belakang.

Baru kali ini Anto melihat kinan seperti ini. Kinan memiliki pribadoi yang bijak, rendah hati dan sederhana. Hal itu lah yang membuat anto begitu menghargai tiap keputusan kinan.

“Ayo, kita kembali ke rumah sakit.” Dengan tersenyum simpel, kinan mulai beranjak pergi dari puncak gedung tertinggi di kota ini. Puncak gedung inilah tempat favorit kinan, bersama Anto, Sidra dan Mawar.

Belum selang berapa lama Kinan dan Anto berjalan membelah kegelapan jalan kota, tiba-tiba terdengar jeritan “Tolong!!” "Tolong!!" Cukup keras, sehingga membuat mereka berdua saling tatap kebingungan.

“Dari mana suara itu?” Anto bertanya, sambil melirik sekitar.
“Dari sana Nto’ “ Kinan Mencoba memastikan.

Tanpa perlu berunding lagi, mereka langsung berlari ke arah jeritan seorang perempuan.

Ternyata..

HIDUP dan MATI (18)

HIDUP dan MATI

Chapter 18

Rembulan menggantung begitu anggun, bercengkrama dengan alam.

Kinan merasa rembulan malam ini dapat memamahami apa yang tengah ia rasakan. Saat ini, hanyalah kenangan-kenangan indah yang pernah ia lalui dengan sidra, dan tentunya mawar juga anto yang memenuhi kepalanya.

Angin kota menerpa wajah kinan yang layu tertunduk, dan membuat mahkotanya tergerai, seakan ingin ikut serta bersama dengan angin malam ini.
“Tuhan, apa engkau akan membiarkan hati ku kembali berlubang? Setelah ayah kandung ku yang saat itu baru saja aku kenali, juga ayah dan ibu angkatku yang sangatku sayangi. Cukuplah mereka yang engkau panggil dan meninggalkan ku.Tuhan. jangan engkau tarik kembali kebersamaan kami begitu cepat Tuhan.” Air mata kinan kian deras membanjiri relung hatinya.

“apa secepat ini engkau akan mengambil salah satu pondasi hidupku? Kebahagiaan yang ku dapat bersama mereka, canda tawa ku bersama mereka. Apa engkau tega melihat hambamu seperti ini, Tuhan.” Kinan merasakan ada sesuatu yang memberontak di dalam dadanya, di balik tulang rusuknya, di dalam jiwanya.

Sementara di ruang tunggu suasananya berubah setelah dokter spesialis yang menangani Sidra datang memberitahukan kedua orang tua sidra.

Di ruang tunggu, dokter telah mengizinkan keluarga untuk menengok kondisi Sidra. Kabar itu di sambut ramah oleh keluarga. Hanya saja, sampai saat ini Kinan tak kunjung kembali.
“Anto, sebaiknya kamu pergi mencarinya. Bilang bahwa, sidra telah membuka matanya.”
Anto tanpa disuruh berulang kali, hanya melirik mawar, lantas berdiri gagah, membusungkan dada, yang kemudian berjalan membelah lorong rumah sakit.

HIDUP dan MATI (17)


Chapter 17

Susananya begitu menegangkan, juga menyedikan. Tetas air mata membanjiri tiap wajah mereka yang berada disana. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menunggu dan berdo’a  agar sidra kembali membuka matanya dan agar sidra di berikan kekuatan untuk melewati masa komanya itu.

Ruang tunggu rumah sakit, hanya dihuni oleh orang-orang terdekat Sidra. Ayah dan ibunya, Kinan, mawar, Maupun Anto.

Mereka benar-benar gelisah. Tak henti-hentinya mereka berdo’a, hingga meneteskan air mata kesidahan, dan ketulusan. Bahkan, Kinan, yang pribadinnya tenang, kalem pun turut gelisah dan terus berdo’a. Tak ada satu pun dari mereka yang menginginkan hal ini terjadi pada Sidra.

Sudah 3 jam waktu berlalu begitu lambat. Hingga saat ini pula masih belum ada informasi tentang perkembangan kondisi Sidra.

Suasana ruang tunggu begitu hening, mengharukan. Mungkin, siapapun yang berada dalam lingkaran ruang tunggu, akan dapat merasakan , atau bahkan turut serta meneteskan air mata.

Rembulan mulai menyinari kegelapan malam. Ya, amat gelap bagi mereka. Bagaimana tidak, cahaya hati mereka kini meredup. Meredup dan terancam tidak akan bersinar kembali untuk selamanya

“Kau mau kemana, kinan?” Anto langsung melontarkan pertanyaannya, tepat saat kinan berdiri dan mulai melangkah.

Tak ada jawaban dari kinan, hanya menoleh sesaat ke arah anto dengan wajahnya yang layu, yang kemudian kembali melangkah.

Anto tak menahannya. Anto benar-benar tahu, mengapa pergi.